PEDOMAN TATALAKSANA HIPERTENSI PADA PENYAKIT KARDIOVASKULAR

Oleh: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KARDIOVASKULAR INDONESIA

Cover Image

Kategori: Kesehatan

Tahun Terbit: 2015

Deskripsi

Pedoman ini disusun untuk membantu para tenaga kesehatan di Indonesia dalam mengelola hipertensi, terutama pada pasien dengan penyakit kardiovaskular. Definisi dan Klasifikasi: Pedoman ini mendefinisikan hipertensi sebagai tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg pada pemeriksaan berulang. Hipertensi juga diklasifikasikan ke dalam beberapa derajat, mulai dari optimal hingga derajat 3. Diagnosis: Diagnosis hipertensi memerlukan beberapa tahapan pemeriksaan, termasuk pengukuran tekanan darah, anamnesis, dan pemeriksaan fisik. Diagnosis ini disadur dari Canadian Hypertension Education Program. * Tatalaksana Non-Farmakologis: Pedoman ini menganjurkan perubahan gaya hidup sehat sebagai langkah awal, terutama untuk pasien hipertensi derajat 1 tanpa faktor risiko lain. Ini termasuk mengurangi berat badan, asupan garam, berolahraga teratur, mengurangi konsumsi alkohol, dan berhenti merokok. Tatalaksana Farmakologis: Terapi obat dimulai ketika pasien hipertensi derajat 1 tidak menunjukkan penurunan tekanan darah setelah 4-6 bulan menjalani gaya hidup sehat, atau pada pasien dengan hipertensi derajat ≥2. Pedoman ini juga memberikan panduan terapi obat berdasarkan tahapan hipertensi dan usia pasien. * Tatalaksana Khusus: Pedoman ini secara spesifik membahas penanganan hipertensi pada berbagai kondisi kardiovaskular, seperti: Penyakit Jantung Koroner: Terapi utama adalah beta-blocker, calcium channel blocker (CCB), ACE inhibitor (ACEi), dan Angiotensin Receptor Blocker (ARB). Gagal Jantung: Hipertensi adalah penyebab utama gagal jantung, dan penggunaan obat antihipertensi seperti diuretik, beta-blocker, ACEi, dan ARB sangat dianjurkan. Fibrilasi Atrial: Beta-blocker atau CCB non-dihidropiridin direkomendasikan untuk mengendalikan laju ventrikel yang cepat. Hipertrofi Ventrikel Kiri: Terapi antihipertensi direkomendasikan, terutama dengan ACEi, ARB, dan CCB yang terbukti dapat mengurangi hipertrofi. Penyakit Arteri Perifer: Mengontrol tekanan darah lebih penting daripada pilihan obatnya, meskipun beta-blocker tidak terbukti memperburuk gejala klaudikasio.