Oleh: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
Kategori: Ilmu Kedokteran
Tahun Terbit: 2011
Dokumen ini adalah Konsensus yang membahas secara rinci diagnosis dan penatalaksanaan Tuberkulosis (TB) di Indonesia. TB diakui sebagai masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia, dengan Indonesia menempati urutan ke-3 untuk jumlah kasus (2004 data). Konsensus ini mencakup: Patogenesis dan Klasifikasi: Menjelaskan perjalanan alamiah TB (primer dan post-primer) serta klasifikasi TB berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA+ atau BTA−) dan tipe penderita (kasus baru, kambuh, gagal, dsb.). Diagnosis: Diagnosis ditegakkan melalui gejala klinik (batuk ≥3 minggu, demam, penurunan berat badan), pemeriksaan jasmani, dan pemeriksaan bakteriologik (mikroskopik BTA, biakan, dan tes cepat). Pemeriksaan serologi tidak direkomendasikan untuk diagnosis. Pengobatan: Strategi pengobatan terbagi dalam fase intensif (2−3 bulan) dan fase lanjutan (4 atau 7 bulan), dengan menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) lini 1 (termasuk KDT). Strategi DOTS: Secara tegas merekomendasikan strategi Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) sebagai kunci keberhasilan program untuk menjamin kepatuhan minum obat. Kasus Khusus: Mencakup penatalaksanaan TB Resistan Ganda (MDR-TB) dan TB pada keadaan khusus seperti TB milier, TB dengan DM, dan TB pada kehamilan/menyusui.